Rabu, 06 Juni 2012

Pengertian Cerpen Menurut para ahli


A. Pengertian Cerpen
1. Pengertian Cerpen Menurut Kamus
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen menurut kamus adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.

2. Pengertian Cerpen Menurut Para Ahli
H.B. Jassin –Sang Paus Sastra Indonesia- mengatakan bahwa yang disebut cerita pendek harus memiliki bagian perkenalan, pertikaian, dan penyelesaian.
A. Bakar Hamid dalam tulisan “Pengertian Cerpen” berpendapat bahwa yang disebut cerita pendek itu harus dilihat dari kuantitas, yaitu banyaknya perkataan yang dipakai: antara 500-20.000 kata, adanya satu plot, adanya satu watak, dan adanya satu kesan.
Aoh. KH, mendefinisikan bahwa cerpen adalah salah satu ragam fiksi atau cerita rekaan yang sering disebut kisahan prosa pendek.
Allan Poe dalam Nurgiyantoro dalam Regina Bernadette, (2006 : 1) Cerita pendek diartikan sebagai bacaan singkat, yang dapat dibaca sekali duduk, dalam waktu setengah sampai dua jam, genrenya mempunyai efek tunggal, karakter, plot dan setting yang terbatas, tidak beragam dan tidak kompleks (Pengarang cerpen tidak melukiskan seluk beluk kehidupan tokohnya secara menyeluruh, melainkan hanya menampilkan bagian – bagian penting kehidupan tokoh yang berfungsi untuk mendukung cerita tersebut yang juga bertujuan untuk menghemat penulisan cerita karena terbatasnya ruang yang ada.
Turayev dalam Regina Bernadette ( 2006 : 1 ) mengatakan bahwa, Cerita pendek bentuk karya sastra naratif, yang menampilkan cerminan sebuah episode dalam kehidupan seorang tokoh. Jadi, secara lebih luas dapat dikatakan bahwa penulis cerpen menampilkan jumlah tokoh yang terbatas, tidak ada perkembangan karakter tokoh dan tidak memiliki latar seperti apa yang terdapat dalam novel.
Dari berbagai pendapat para ahli, rumusan-rumusan tersebut tidak sama persis, juga tidak saling bertentangan satu sama lain. Hampir semuanya menyepakati pada satu kesimpulan bahwa cerita pendek atau cerpen adalah cerita rekaan yang pendek. Cerpen merupakan akronim dari cerita pendek. Karya sastra merupakan wujud dan bentuk dari perilaku yang diciptakan, contoh karya sastra yang sederhana adalah cerpen. Cerpen merupakan karya sastra yang  menarik dan sederhana. Menceritakan sebuah konflik secara singkat dan lugas, namun memiliki unsur-unsur sastra yang menarik.

B. Sudut Pandang atau  point of view  
1. Pengertian sudut pandang atau  point of view  
Sudut pandang termasuk unsur intrinsik dalam cerita berbentuk prosa, selain tema, alur, latar, dan penokohan. Dibawah ini terdapat pengertian sudut pandang menurut para ahli.
Sudut pandang (titik pandang, pusat pengisahan) merupakan posisi pencerita(narator) dalam sebuah cerita. Ada kalanya pencerita bertindak sebagai orang pertama atau sebagai orang ketiga. Sebagai orang pertama, seorang pencerita adalah sebagai tokoh cerita. Ia terlibat secara langsung didalam cerita (Atmazaki, 1990:63).
Sudutpandang orang pertama melibatkan penulis. Karena itu, seolah-olah ia mengalamisendiri peristiwa-peristiwa di dalam sebuah cerita. Bagaimanapun jauhnya, ia berada dipusat tindakan tokoh. Dengan demikian, posisi pembaca juga berada pada pusat tindakan  tokoh  (Sukada, 1987:79).
Adapun sebagai orang ketiga, seorang pencerita tidak muncul dalam cerita. Ia adalah orang yang mengetahui seluruh peristiwa atau serba tahu sehingga denganleluasa ia dapat  menceritakan  sebuah  peristiwa yang  dialami oleh para tokohnya. Sudut pandang orang  ketiga memberikan pandangan  yang  tak  memihak  pada  para  tokoh dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Para tokoh tidak dekat dan tidak berad disekitar pencerita, tetapi ia berada diluar pencerita. Karena itu posisi pembaca pun dengansendirinya juga berada diluar cerita (Sukada, 1987:79).
Istilah sudut pandang (point of view) dijelaskan Perry Lubbock dalam bukunya the Craft of Fiction. Menurut Lubbock, point of view mengandung arti hubungan antara tempat pencerita berdiri dan ceritanya. Dia ada di dalam atau  di luar cerita? hubungan ini ada dua macam, yaitu hubungan pencerita diaan dengan ceritanya, dan hubungan pencerita akuan dengan ceritanya (Lubbock,1965:251-257).
Sudut pandang adalah pilihan pengarang dalam menggunakan tokoh cerita. Sudut pandangan atau Point of View yang oleh S. Tasrif,S.H. dalam buku Teknik Mengarang, Korrie Layun Rampan (1983:29) dijelaskan bahwa point of view digunakan pengarang untuk memilih dari sudut mana ia akan menceritakan ceritanya. Apakah  sebagai orang di luar saja, atau apakah pengarang juga akan turut dalam cerita itu
Menurut A. Bakar Hamid dalam tulisannya “Sudut Pandangan” adalah teknik untuk mengemukakan cerita dengan meyakinkan dan pengarang dapat menggunakan teknik ini untuk menekankan hal-hal yang dianggapnya penting dan menyambillalukan hal-hal yang dianggap sebagai sampingan saja.
Sudut pandang menurut Albertine Minderop (2005:88) pada dasarnya merupakan strategi, teknik, siasat yang sengaja dipilih pengarang untuk mengungkapkan gagasan dan ceritanya untuk menampilkan pandangan hidup dan tafsirannya terhadap kehidupan yang semua ini disalurkan melalui sudut pandang tokoh.
Berdasarkan  beberapa pendapat  diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan dirinya terhadap cerita atau dari sudut mana pengarang memandang ceritanya. Dengan demikian, sudut pandang  pada hakikatnya merupakan teknik atau siasat yang sengaja dipilih penulis untuk menyampaikan gagasan dan ceritanya, melalui kaca mata tokoh atau tokoh-tokoh dalam ceritanya.

2. Jenis-jenis sudut pandang
Diantara elemen yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun cerita pendek adalah sudut pandang tokoh yang dibangun sang pengarang. Sudut pandang tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokoh bercerita. Jadi sudut pandang ini sangat erat dengan teknik bercerita.
Sudut pandang  ada beberapa jenis diantaranya :
1.      Sudut pandang orang pertama(akuan).
Sudut pandang atau disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Di sini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya”nya. Gaya penceritaan akuan dibedakan menjadi dua, yaitu
a. Pencerita akuan sertaan, yaitu pencerita akuan di mana pencerita menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.
b. Pencerita akuan taksertaan, yaitu pencerita akuan di mana pencerita tidak terlibat menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.
 Pendapat mengenai jenis sudut pandang orang pertama dikemukakan juga oleh Friedman (dalam Stevick, 1967:118) mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya bisa digunakan untuk membedakan sudut pandang. Salah satu pertanyaan itu adalah siapa yang berbicara kepada pembaca (pengarang dalam persona ketiga, atau pertama)? Perbedaan sudut pandang yang akan saya kemukakan berikut berdasarkan atas pertanyaan tersebut. Secara garis besar ada dua macam sudut pandang orang pertama yakni, sudut pandang orang pertama tunggal dan sudut pandang orang pertama jamak . Hanya kemudian dari keduanya terbentuk variasi-variasai yang memiliki konsekuensi berbeda-beda.
1.       Sudut pandang orang pertama tunggal   
Pengarang dalam sudut pandang ini menempatkan dirinya sebagai pelaku sekaligus narator dalam ceritanya. Menggunakan kata ganti “Aku” atau “Saya”. Namun begitu, SP ini bisa dibedakan berdasarkan kedudukan “Aku” di dalam cerita itu. Apakah dia sebagai pelaku utama cerita? atau hanya sebagai pelaku tambahan yang menuturkan kisah tokoh lainnya?
a.       “Aku” tokoh utama
Pengarang menempatkan dirinya sebagai tokoh di dalam cerita yang menjadi pelaku utama. Melalui tokoh “Aku” inilah pengarang mengisahkan kesadaran dirinya sendiri (self consciousness); mengisahkan peristiwa atau tindakan. Pembaca akan menerima cerita sesuai dengan yang diketahui, didengar, dialami, dan dirasakan tokoh “Aku”. Tokoh “Aku” menjadi narator sekaligus pusat penceritaan.
Apabila peristiwa-peristiwa di dalam cerita anda terbangun akibat adanya konflik internal (konflik batin) akibat dari pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, atau harapan dari tokoh cerita, sudut pandang ini merupakan pilihan yang tepat. Karena anda akan leluasa mengungkapkan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh tokoh cerita anda.
Kebanyakan penulis yang menggunakan sudut pandang ini, seringkali terlalu asyik menceritakan (tell) keseluruhan cerita, tanpa berusaha menunjukkan (show) atau memperagakannya. Akibatnya cerita menjadi kurang dramatis. Bahkan bukan tidak mungkin, apabila anda memilih sudut pandang ini, anda akan kesulitan memperkenalkan tokoh, apakah seorang perempuan atau lelaki.
Namun, karena cerita dituturkan oleh tokoh “Aku”, anda harus menulis dengan bahasa tokoh “Aku”, sesuai dengan karakter yang telah anda tetapkan. Apabila tokoh anda lebih tua atau lebih muda dari usia anda, akan mempengaruhi bahasa yang bisa anda gunakan.
b. “Aku” tokoh tambahan
Pengarang menempatkan dirinya sebagai pelaku dalam cerita, hanya saja kedudukannya bukan sebagai tokoh utama. Keberadaan “Aku” di dalam cerita hanya sebagai saksi. Dengan demikian, tokoh “Aku” bukanlah pusat pengisahan. Dia hanya bertindak sebagai narator yang menceritakan kisah atau peristiwa yang dialami tokoh lainnya yang menjadi tokoh utama.

2.      Sudut Pandang Orang Pertama Jamak
Bentuk sudut pandang ini sesungguhnya hampir sama dengan sudut pandang orang pertama tunggal. Hanya saja menggunakan kata ganti orang pertama jamak, “Kami”. Pengarang dalam sudut pandang ini menjadi seseorang dalam cerita yang bicara mewakili beberapa orang atau sekelompok orang. Perhatikan petikan di bawah ini.
 pembaca mengikuti semua gerak dan tindakan satu orang atau beberapa orang melalui kaca mata sebuah kelompok. Narator dalam cerita yang berbicara mewakili kelompoknya (“Kami”), tidak pernah mengungkapkan jati dirinya kepada pembaca, seakan-akan dia tidak mempunyai jati diri, selain jati diri kelompoknya. sudut pandang orang pertama jamak ini bisa anda pilih, jika anda ingin membuat cerita dengan latar sebuah komunitas kecil seperti sekolah, masjid, keluarga, restoran, dan lain-lain. Anda bisa memusatkan penceritaan pada seorang tokoh yang memiliki masalah dengan lingkungan sekitarnya. Jika ini yang dipilih, maka “Kami” hanya menjadi tokoh tambahan yang menuturkan konflik yang dialami oleh tokoh utama. Atau justru sekelompok orang itu (“Kami”) yang memiliki masalah dengan lingkungannya.

2.       Sudut Pandang Orang Kedua
Pengarang menempatkan dirinya sebagai narator yang sedang berbicara kepada orang lain, menggambarkan apa-apa yang dilakukan oleh orang tersebut. Sudut pandang ini menggunakan kata ganti orang kedua, “Kau”, “Kamu” atau “Anda” yang menjadi pusat pengisahan dalam cerita.
Pada suut pandang ini pembaca seolah-olah diperlakukan sebagai pelaku utama. Pembaca akan merasa seperti seseorang yang tengah membaca kiriman surat dari kerabat atau orang terdekatnya. Sehingga membuat pembaca menjadi merasa dekat dengan cerita, karena seolah-oleh dialah pelaku utama dalam cerita itu.

3.      Sudut pandang orang ketiga(diaan)
Sudut pandang ini, biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; “Aisha”, “Fahri”, dan “Nurul” . Yang dimaksud sudut pandang orang ketiga adalah sudut pandang bercerita di mana tokoh pencerita tidak terlibat dalam peristiwa-peristiwa cerita. Sudut pandang orang ketiga ini disebut juga gaya penceritaan diaan. Gaya pencerita diaan dibedakan menjadi dua, yaitu
a.       Pencerita diaan serba tahu,artinya segala sesuatu tentang semua tokoh dan peristiwa dalam cerita. Ia juga tahu apa saja yang menjadi pikiran atau perasaan para tokohnya.         
b.      Pencerita diaan terbatas, yaitu pencerita diaan yang membatasi diri dengan memaparkan atau melukiskan lakuan dramatik yang diamatinya. Jadi seolah-olah dia hanya melaporkan apa yang dilihatnya saja.
Tak jarang dalam suatu karya yang menggunakan sudut pandang orang ketiga kita menemukan adanya giliran bicara (turn taking) antara satu karakter dengan karakter lain. Hal ini mungkin dilakukan jika penulis menggunakan beberapa karakter sebagai penutur. Lebih jelasnya, bisa dilihat dari pembagian berikut:
1.       Sudut pandang orang ketiga tunggal
Dalam sudut pandang tipe ini, cerita dituturkan hanya dari satu karakter saja.
2.      Sudut pandang orang ketiga ganda
Sudut pandang jenis ini menggunakan perpindahan dua karakter atau lebih dalam  satu cerita. Karena digunakan dengan cara “susul-menyusul” sudut pandang jenis ini berpotensi membuat pembaca bingung dan “capek” saat membaca. Hal ini mungkin tak dirasakan saat membaca contoh pendek di atas namun dalam cerita yang lebih panjang, apalagi jika melibatkan lebih banyak karakter, bisa dibayangkan “seramai” apa jadinya.
3.       Sudut pandang orang ketiga bergantian
Dengan menggunakan sudut pandang ini, penulis memberikan giliran bicara pada beberapa tokoh secara bergantian. Untuk menghindarkan pembaca dari kebingungan, sudut pandang jenis ini biasanya digunakan dalam bab atau sub bab yang berbeda. Perpindahan penuturan biasanya ditandai dengan tanda tertentu seperti nama karakter atau tanda batas (***).
Dibandingkan dengan tipe sebelumnya, sudut pandang ini memberikan ruang yang lebih lega bagi pembaca untuk mendengarkan penuturan tiap karakter. Namun, sebagaimana jenis sudut pandang sebelumnya, jumlah karakter yang bertutur sebaiknya juga dibatasi (demi kenyamanan membaca).

4.      Sudut pandang campuran
Dalam sudut pandang ini, pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan.
5. Sudut pandang yang berkuasa
 Merupakan teknik yang menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandangan yang berkuasa ini membuat cerita sangat informatif. Sudut pandanga ini lebih cocok untuk cerita-cerita bertendens. Para pujangga Balai Pustaka banyak yang menggunakan teknik ini. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui.






Berikut adalah tabel sudut pandang dan kata ganti orang (pronominal persona)

Persona
Tunggal
Jamak
Pertama
Saya, engkau, daku, beta, hamba
Kami, kita
Kedua
Engkau,kamu,hamba, dikau
(Engkau, kamu, hamba, dikau) + sekalian, kalian semua
Ketiga
Ia, dia, beliau, Lupus, Ari, Tia
mereka


C. Analisis sudut pandang dalam cerpen “CINTA TERAKHIR PANGERAN GENJI”

    Dalam cerpen “ Cinta Terakhir pangeran Genji” pengarang tidak hanya menggunakan satu sudut pandang saja, tapi pengarang dalam menampilkan ceritanya menggunakan beberapa sudut pandang, yaitu orang pertama tunggal, orang kedua tunggal, orang ketiga tunggal, orang kga jamak, dan sudut pandang diaan serba tahu.
1.      Orang pertama tunggal, yaitu kata aku, saya, dan –ku. Dalam cerpen ini, dalam menggunakan kata “aku, saya, dan –ku” dalam menceritakan sosok Pangeran Genji dan Putri Desa Bunga Rontok . Hal ini dapat terlihat  dalam kutipan cerita berikut :
1.      “Dari mana asalmu, wanita muda? Kau pandai menyanyikan lagu yang banyak semasa mudaku? Harpa melantunkan nada-nada lagu zaman itu izinkan aku menyentuh dawai-dawaimu.”
2.      Lalu Genji membelai rambutnya. Sesaat kemudiaia bertanya , “sayang sekali. Bukankah suamimu lebih tampan dan lebih muda dari aku , perempuan muda dari tanah Yamanto?”
3.       Suamiku tidak setampan dirimu ;ia tidak tampan lebih muda , “jawab Putri Desa Bunga Rontok”
4.      “ Kau cekatan dalam lemah lembut , perempuan muda. Kukira pangeran Genji yang dahulu sangat menikmati kebahagiaan asama sekalipun, tak pernah memiliki kekasih selembut dirimu.”
5.      “Aku Ukifune,anak petani So-Hei,”jawab putri tanpa melupakan logat setempat, “Aku baru saja ke kota bersama ibuku membeli kain dan panci.

2.      Orang kedua tunggal, yaitu kata kau dan –mu. Dalam cerpen ini pengarang menggunakan kata “kau dan –mu”, dalam menceritakan sosok  Putri Desa Bunga rontok dan Pangeran Genji.  Hal ini dapat terlihat  dalam kutipan cerita berikut :
1.      “Dari mana asalmu, wanita muda? Kau pandai menyanyikan lagu yang banyak semasa    mudaku? Harpa melantunkan nada-nada lagu zaman itu izinkan aku menyentuh dawai-dawaimu.”
2.      “ Kau cekatan dalam lemah lembut , perempuan muda. Kukira pangeran Genji yang dahulu sangat menikmati kebahagiaan asama sekalipun, tak pernah memiliki kekasih selembut dirimu.”
3. Orang ketiga tunggal, yaitu kata bapak, ibu,Aristoteles (nama-nama orang). Dalam  cerpen ini pengarang menggunakan kata “ Genji, Putri Desa Bunga Rontok, ia, dia, Putri ,” dalam menceritakan sosok Pangeran Genji, Putri Desa Bunga Rntok, Putri Violet,Putri Istana Barat,istri, putri biru, putri pavyliun-Volubilis,. Hal ini dapat terlihat  dalam kutipan cerita berikut :
1. Ketika Genji Sang Cemerlang –perayu wanita terhebat yang pernah menghebohkan benua Asia,mencapai umur 50 tahun.
2. Istrinya yang kedua Murasaki, Putri violet yang sangat ia cintai.
3. Pikiran Genji tersiksa karena ia sudah tidak ingat dengan jelas lagi bagaimana dahulu senyumannya begitu pula seringainya sebelum mencucurkan air mata.
4. Istrinya yang ketiga, putri istana barat berselingkuh dengan seorang kerabat yang measih muda.
5. Karena tak satupun mendapat jawaban, ia lalu menyewa kereta kuda sederhana dan minta diantarkan ke pondok pangeran dalam keterasingan.
6. Dari jauh ia mengawasi perkembangan pengklihatan Genji seperti seorang perempuan yang dengan tidak sabar  bertemu kekasihnya, menantikan malam gelap.
7. “Tubuhmu kuyup , gadis,” Kata pangeran saat tangannya menyentuh bahu putri.
4. Orang ketiga jamak, yaitu kata mereka. Dalam cerpen ini pengarang menggunakan kata “mereka” dalam . menyatakan Hamba-hamba tua yang melayani pangeran,Pangeran Genji dan Ratu Desa Bunga Rontok. Hal ini dapat terlihat  dalam kutipan cerita berikut :
1. Mereka inilah yang terkadang yang menyampaikan berita kepadanya.
2. Genji masih dapat mengenali wajah tamunya, bila mereka berada sangat dekat kepadanya.
3. Setelah mereka berhenti membelai dan mengelus, putrid berlutut dihadapan pangeran sambil berkata, “Aku telah berbohong kepadamu, pangeran.Aku memang benar Ukifure,anak petani So-Hei, tetapi aku tidak tersesat di gunung.
5. Sudut pandang diaan serba tahu. Artinya segala sesuatu tentang semua tokoh dan peristiwa dalam cerita. Ia juga tahu apa saja yang menjadi pikiran atau perasaan para tokohnya. Perhatikan kutipan berikut:
Paragraf pertama:
1.      Ketika Genji Sang Cemerlang –perayu wanita terhebat yang pernah menghebohkan benua Asia,mencapai umur 50 tahun.. (tentang tokoh).
2.      Istrinya yang kedua Murasaki, Putri violet yang sangat ia cintai. (perasaan tokoh)
3.      Pikiran Genji tersiksa karenea ia sudah tidak ingat dengan jelas lagi bagaimana dahulu senyumannya begitu pula seringainya sebelum mencucurkan air mata.(pikiran tokoh).
4.      Istrinya yang ketiga, putrid istana barat berselingkuh dengan seorang kerabat yang measih muda.(tentang tokoh).


Paragraf  kedua:
1.      Diperlukan waktu 3 hari untuk mencapai pertapaan yang terletak dijantung peliaran pedesaan.rumah kecil itu berdiri dibawah sebuah pohon erable yang telah berumur lebih dari 100 tahun.Saat itu musim rontok,daun-daun pohon yang indah itu menutup atap jerami pertapaan seolah lapisan berwarna keemasan.(perisrriwa yang diketahi pengarang).


    Paragraf keempat:
1.      Dengan perasaan getir Genji tak dapat menahan amarahnya saat melihat perempuan itu.(pengarang menjelaskan perasaan tokohnya).
2.      Pada saat itulah Genji,berselubung jubah rahib sederhana,melangjkah perlahan menyusuri jalan setapak; semua kerikil telah dengan cermat disingkirkan oleh para hamba yang telah lanjut usia,agar kakinya tidak tersandung.kebutaan dan kerentaan membuat wajahnya terlihat kosong,acuh tak acuh,mirip sebuah cermin keabuan yang dahulu pernah memantulkan wajahnya yang tampan.tanpa perlu berpura-pura putrid desa bunga rontok menitikkan air mata.(pengarang mengetahui tentang tokoh).
Paragraf tujuh:
1.      Maka putri desa bunga rontok kembali menjadi selir pangeran Genji yang dicintainya dengan segala kerendahan hati selama lebih dari 18 tahun.(pengarang mengetahui tentang tokoh).
Paragraf delapan:
1.      Setelah mereka berhenti membelai dan mengelus, putrid berlutut dihadapan pangeran sambil berkata, “Aku telah berbohong kepadamu, pangeran.Aku memang benar Ukifure,anak petani So-Hei, tetapi aku tidak tersesat digunung.Kejayaan Pangeran Genji telah tersebar sampai ke desa. Aku datang kemari atas kemauan sendiridan menemukan cinta dalam pelukanmu.”Genji terhuyung-huyung bangkit, seperti sebatang cemara goyah karena terlilit musim dingin dan angin. Ia berteriak dengan suara nyaring, “Celakalah kau.Kau datang untuk mengingatkan diriku pada kenang-kenangan akan musuhku yang paling dahsyat, pangeran tampan bermata lincah; setiap malam bayangannya membuatku tak dapat memicingkan mata. Enyahlah kau ….” (pengarang mengetahui peristiwa dalam cerita).
Paragraf sepuluh:
1.      Dua bulan kemudian, Putri-desa-bunga-rontok kembali mencoba.Kali ini ia berdandan dan mengoleskan wewangian dengan sangat hati-hati. Meski model pakaiannya agak sempit dan kurang berani namun tetap luwes, ia menjaga agar minyak wanginya tidak mengundag perhatian. (pengarang mengetahi peristiwa dalam cerita).


Paragraf duabelas:
1.      Genji bangkit berdiri untuk menunjukkan jalan sambil meraba-raba. Tak sekalipun ia mengangkat mata untuk memandangnya. Pertandan ini menujukan ini bahwa penglihatan sang pangeran benar-benar telah hilang. (pengarang mengetahui tentang tokoh ).

Paragraf  tiga belas:
1.      Setelah putri merebahkan diri iatas kasur daun-daunan kering, Genji kembali duduk di tempat ia melamun, di ambang pintu pondok. Hatinya sedih. Ia bahkan tidak dapat melihat apakah wanita itu berwajah cantik. (pengarang mengetahui perasaan tokoh).

Paragraf  tujuh belas dan delapan belas:
1.      Sepanjang hari sang pangeran bermuram durja. Maka putri pun menyadari bahwa untuk kedua kalinya ia membuat langkah yang salah. Namun, Genji tidak berkata akan mengusirnya, dan tampaknya ia merasa senang mendengar gemerisiknya gaun sutra diatas rumput. (pengarang mengetahui perasaan tokoh).

Paragraf Sembilan belas dan dua puluh:
1.      Musim rontok tiba. Pepohonan di gunung berubah menjadi peri berbusana merah lembayun dan keemasan, meski akhirnya bakal mati oleh awal udara dingin. Putri melukiskan warna-warna coklat keabuan, coklat keemasan dan coklat keunguan kepada sang pangeran. setiap kali ia berusaha untuk tidak menunjukan secara terbuka bahwa dirinya memberikan pertolongan. tak henti-hentinya ia memukau pangeran Genji dengan rangkaian kalung bunga, hidangan bercinta selera tinggi justru karena kesederhanaannya, kata-kata baru yang menyentuh perasaan dan keharuan, dikutip dari lagu-lagu lama. ia bahkan telah menumpahkan daya pesona yang sama yang dahulu pernah ia tunjukan di pafilyun Gundik kelima, di tempat itulah Genji menemuinya. namun karena pikiran sang pangeran sering melayang ke kekasihnya yang lain ia tidak menyadarinya. (peristiwa yang diketahui pengarang).

Paragraf ke 21:
1.      pada akhir musim rontok penyakit demam meruap dari arah rawa-rawa. serangga berkembang biak dengan cepat di udara yang tercemar. setiap helaan nafas bagaikan air yang di teguk dari mata air yang beracun. Genji jatuh sakit. ia berbaring di atas dari daun kering. ia sadar dirinya tidak akan bangun lagi. ia merasa sungkan karena kelemahan dan perawatan belas kasihan yang dilakukan putri gara-gara penyakitnya itu. namun laki-laki yang seumur hidupnya selalu mencari pengalaman paling istimewa sekaligus paling getir itu ( peristiwa yang diketahui pengarang). Namun laki-laki yang seumur hidupnya selalu mencari pengalaman paling istmewa sekaligus paling getir itu (tentang tokoh).





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar